Essai ini saya tulis ditahun 2013, keluar sebagai juara 1 dalam lomba essai dengan tema “buku” yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Budaya Universitas
Sumatera Utara se-Kota Medan.
Buku dan
Kesuksesan, Dua Sisi yang Berkaitan
Oleh Nanda
Supriadi Siregar
Buku adalah
jendela dunia dan membaca adalah kunci kesuksesan
Pepatah itu tentu sudah tidak asing lagi di telinga
kita. Pepatah yang menurut saya, tidak akan pernah usang oleh waktu. Tentu
saja, karena buku adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kita.
Dengan buku dunia terlihat jelas, dengan buku juga kita bisa mengelilingi dunia
yang begitu luas. Tanpa membaca buku, tanpa ada buku,
dunia akan bodoh, dua akan gelap, segelap saat masa jahiliyah.
Membaca tidak mengenal usia dan
waktu. Tidak ada istilah berhenti untuk menggali ilmu. Walau ajal menjemput,
tidak kenal kata menyerah untuk belajar. Salah satunya adalah membaca, dengan
membaca maka pengetahuan akan bertambah. Sudah pasti, orang yang rajin membaca
adalah orang pintar.
Buku adalah aset dunia yang tidak
ternilai harganya. Uang bisa habis, harta, kekuasaan bisa lenyap, tapi
pengetahuan tidak bisa hilang. Jadi jelas, harga pengetahuan yang bersumber
dari buku sangat bernilai tinggi apabila dimanfaat untuk hal yang baik.
Beberapa sifat buku yang menurut saya patut menjadi
alasan untuk kita mencintainya adalah pertama, karena buku selalu up to date. Walaupun buku telah berumur
puluhan bahkan ratusan tahun, tapi buku selalu menyimpan informasi yang akurat
sebagai media untuk mengetahui data – data peradaban yang ada saat itu.
Kedua, karena
buku selalu kaya dengan imajinasi. Membayangkan apa yang tertulis di buku membuat
kita seperti membangun cerita versi pikiran kita sendiri. Mengajak diri kita untuk
berkreasi dengan menenggelamkan diri dalam alur atau setting yang terdapat
dalam buku. Itu menjadikan kita belajar untuk mengerti dunia lain yang
sebelumnya tidak pernah terpikir oleh kita.
Dan ketiga, dengan membaca buku dapat membuat
kita tergerak untuk menulis. Mendeskripsikan sesuatu hal menurut kacamata kita
sendiri. Menulis membuat kita bebas menciptakan dunia yang ingin kita bangun.
Kita bisa mengungkapkan apa yang kita rasakan. Dan menulis adalah sarana yang
paling efektif dalam mengungkapkan perasaan. Juga bisa menawarkan pemikiran
baru pada orang lain.
Kecintaan terhadap membaca tidak bisa lepas dari
kehidupan seseorang yang ingin menjadi besar. Proses itu (suka membaca) bermula
dari kecil, ketika seseorang sering bersentuhan dengan bahan bacaan maka proses
itu terus bergulir hingga dewasa dan membentuk karakter lalu menjadi kebiasaan.
Orang yang gemar membaca memiliki wawasan yang lebih
luas dibandingkan dengan manusia pada umumnya. Mengapa? Sebab asupan informasi
berupa ilmu-ilmu baru dari dunia luar selalu mereka temukan dan mereka pelajari
dari bahan bacaan yang mereka nikmati.
Berkaitan dengan membaca, saya rasa kita sudah sangat ketinggalan
dengan negara maju yang begitu popuer dengan budaya baca masyarakatnya. Di
Jepang, kita akan sangat mudah melihat pemandangan orang-orang membaca di atas
kendaraan umum, di halte, atau di tempat-tempat umum lainnya. Sangat berbeda
suasananya di negeri kita, apalagi di Jakarta.
Patut kita renungkan betapa malasnya masyarakat kita
membaca. Bila pun ada yang suka membaca sampai menjadi kutu buku, bilangan itu
tidak seberapa. Sebut saja akademisi, pelajar, mahasiswa, guru, dosen, ilmuwan
atau profesi sejenisnya tidak sulit kita temukan mereka dengan hobinya terhadap
bacaan. Sisanya? Para petani, buruh, atau masyarakat bawah, atau mungkin ada
juga kelas atas yang sangat malas bersentuhan dengan buku. Apakah mereka suka
membaca? Entahlah, tulisan ini tidak saya buat untuk memberi jawaban
argumentatif.
Padahal, sudah bukan rahasia, membaca membuat kita
lebih kaya dengan ilmu pengetahuan. Sumber-sumber ilmu dapat ditelusuri dari
buku dan literatur semacamnya. Dengan membiasakan membaca maka akan lebih
bermanfaatlah waktu yang kita miliki. Baik dalam jangka pendek maupun jangka
panjang sebab banyak membaca berarti banyak harta yang kita tabung.
Kebiasaan membaca memang tidak lepas dari keinginan
seseroang untuk maju. Orang yang ingin sukses menjadikan kegiatan membaca
sebagai salah satu menu harian. Dengan membaca maka akan semakin sehatlah
pikiran. Namun demikian, kecintaan terhadap kegiatan membaca tentu tidak serta
merta diperoleh. Hal itu bermula dari kesadaran. Kesadaran untuk maju.
Kesadaran tentang arti dan pentingnya membaca bagi keberlangsungan hidup kita
dan hidup anak-anak generasi bangsa.
Semoga, kita lebih sadar bahwa membaca itu penting.
Dengan membiasakan diri membaca, maka akan lebih cerdaslah kita, insyaallah.
Mantap
BalasHapusthanks :)
Hapus