Selasa, 27 Agustus 2019

Essai: Buku dan Kesuksesan, Dua Sisi yang Berkaitan


Essai ini saya tulis ditahun 2013, keluar sebagai juara 1 dalam lomba essai dengan tema “buku” yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara se-Kota Medan.
Buku dan Kesuksesan, Dua Sisi yang Berkaitan
Oleh Nanda Supriadi Siregar

Buku adalah jendela dunia dan membaca adalah kunci kesuksesan

Pepatah itu tentu sudah tidak asing lagi di telinga kita. Pepatah yang menurut saya, tidak akan pernah usang oleh waktu. Tentu saja, karena buku adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kita. Dengan buku dunia terlihat jelas, dengan buku juga kita bisa mengelilingi dunia yang begitu luas. Tanpa membaca buku, tanpa ada buku, dunia akan bodoh, dua akan gelap, segelap saat masa jahiliyah. 

Membaca tidak mengenal usia dan waktu. Tidak ada istilah berhenti untuk menggali ilmu. Walau ajal menjemput, tidak kenal kata menyerah untuk belajar. Salah satunya adalah membaca, dengan membaca maka pengetahuan akan bertambah. Sudah pasti, orang yang rajin membaca adalah orang pintar.

Buku adalah aset dunia yang tidak ternilai harganya. Uang bisa habis, harta, kekuasaan bisa lenyap, tapi pengetahuan tidak bisa hilang. Jadi jelas, harga pengetahuan yang bersumber dari buku sangat bernilai tinggi apabila dimanfaat untuk hal yang baik.

Beberapa sifat buku yang menurut saya patut menjadi alasan untuk kita mencintainya adalah pertama, karena buku selalu up to date. Walaupun buku telah berumur puluhan bahkan ratusan tahun, tapi buku selalu menyimpan informasi yang akurat sebagai media untuk mengetahui data – data peradaban yang ada saat itu. 

Kedua, karena buku selalu kaya dengan imajinasi. Membayangkan apa yang tertulis di buku membuat kita seperti membangun cerita versi pikiran kita sendiri. Mengajak diri kita untuk berkreasi dengan menenggelamkan diri dalam alur atau setting yang terdapat dalam buku. Itu menjadikan kita belajar untuk mengerti dunia lain yang sebelumnya tidak pernah terpikir oleh kita. 

Dan ketiga, dengan membaca buku dapat membuat kita tergerak untuk menulis. Mendeskripsikan sesuatu hal menurut kacamata kita sendiri. Menulis membuat kita bebas menciptakan dunia yang ingin kita bangun. Kita bisa mengungkapkan apa yang kita rasakan. Dan menulis adalah sarana yang paling efektif dalam mengungkapkan perasaan. Juga bisa menawarkan pemikiran baru pada orang lain.

Kecintaan terhadap membaca tidak bisa lepas dari kehidupan seseorang yang ingin menjadi besar. Proses itu (suka membaca) bermula dari kecil, ketika seseorang sering bersentuhan dengan bahan bacaan maka proses itu terus bergulir hingga dewasa dan membentuk karakter lalu menjadi kebiasaan. 

Orang yang gemar membaca memiliki wawasan yang lebih luas dibandingkan dengan manusia pada umumnya. Mengapa? Sebab asupan informasi berupa ilmu-ilmu baru dari dunia luar selalu mereka temukan dan mereka pelajari dari bahan bacaan yang mereka nikmati.

Berkaitan dengan membaca, saya rasa kita sudah sangat ketinggalan dengan negara maju yang begitu popuer dengan budaya baca masyarakatnya. Di Jepang, kita akan sangat mudah melihat pemandangan orang-orang membaca di atas kendaraan umum, di halte, atau di tempat-tempat umum lainnya. Sangat berbeda suasananya di negeri kita, apalagi di Jakarta.

Patut kita renungkan betapa malasnya masyarakat kita membaca. Bila pun ada yang suka membaca sampai menjadi kutu buku, bilangan itu tidak seberapa. Sebut saja akademisi, pelajar, mahasiswa, guru, dosen, ilmuwan atau profesi sejenisnya tidak sulit kita temukan mereka dengan hobinya terhadap bacaan. Sisanya? Para petani, buruh, atau masyarakat bawah, atau mungkin ada juga kelas atas yang sangat malas bersentuhan dengan buku. Apakah mereka suka membaca? Entahlah, tulisan ini tidak saya buat untuk memberi jawaban argumentatif.

Padahal, sudah bukan rahasia, membaca membuat kita lebih kaya dengan ilmu pengetahuan. Sumber-sumber ilmu dapat ditelusuri dari buku dan literatur semacamnya. Dengan membiasakan membaca maka akan lebih bermanfaatlah waktu yang kita miliki. Baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang sebab banyak membaca berarti banyak harta yang kita tabung.

Kebiasaan membaca memang tidak lepas dari keinginan seseroang untuk maju. Orang yang ingin sukses menjadikan kegiatan membaca sebagai salah satu menu harian. Dengan membaca maka akan semakin sehatlah pikiran. Namun demikian, kecintaan terhadap kegiatan membaca tentu tidak serta merta diperoleh. Hal itu bermula dari kesadaran. Kesadaran untuk maju. Kesadaran tentang arti dan pentingnya membaca bagi keberlangsungan hidup kita dan hidup anak-anak generasi bangsa.

Semoga, kita lebih sadar bahwa membaca itu penting. Dengan membiasakan diri membaca, maka akan lebih cerdaslah kita, insyaallah.

Artikel : Matematika Mengubah Peradaban Manusia


Tulisan terbaik yang pernah saya tulis di tahun 2013, tulisan ini keluar sebagai juara 1 dalam lomba menulis artikel dengan tema “matematika” yang diselenggarakan Fakultas MIPA Universitas Andalas se-Sumatera.

Matematika Mengubah Peradaban Manusia
Oleh: Nanda Supriadi Siregar

Cabang pengkajian yang dikenal sebagai sejarah matematika adalah penyelidikan terhadap asal mula penemuan di dalam matematika dan sedikit perluasannya, penyelidikan terhadap metode dan notasi matematika pada masa silam.
Sebelum zaman modern dan penyebaran ilmu pengetahuan ke seluruh dunia, contoh-contoh tertulis dari pengembangan matematika telah mengalami kemilau hanya di beberapa tempat. Tulisan matematika terkuno yang telah ditemukan adalah Plimpton 322 (matematika Babilonia sekitar 1900 SM), Lembaran Matematika Rhind (Matematika Mesir sekitar 2000-1800 SM), dan Lembaran Matematika Moskwa (matematika Mesir sekitar 1890 SM). Semua tulisan itu membahas teorema yang umum dikenal sebagai teorema Pythagoras, yang tampaknya menjadi pengembangan matematika tertua dan paling tersebar luas setelah aritmetika dasar dan geometri.
Dari zaman kuno melalui zaman pertengahan, ledakan kreativitas matematika seringkali diikuti oleh abad-abad kemandekan. Bermula pada abad Renaisans Italia pada abad ke-16, pengembangan matematika baru, berinteraksi dengan penemuan ilmiah baru, dibuat pada pertumbuhan eksponensial yang berlanjut hingga kini.
Apakah matematika itu? Hingga saat ini belum ada kesepakatan yang bulat di antara para matematikawan tentang apa yang disebut matematika itu. Untuk mendeskripsikan definisi kata matematika para matematikawan belum pernah mencapai satu titik “puncak” kesepakatan yang “sempurna”. Banyaknya definisi dan beragamnya deskripsi yang berbeda dikemukakan oleh para ahli, hal itu disebabkan oleh ilmu matematika itu sendiri, di mana matematika termasuk salah satu disiplin ilmu yang memiliki kajian sangat luas sehingga masing-masing ahli bebas mengemukakan pendapatnya tentang matematika berdasarkan sudut pandang, kemampuan, pemahaman, dan pengalamannya masing-masing. Oleh sebab itu matematika tidak akan pernah selesai untuk didiskusikan, dibahas maupun diperdebatkan. Penjelasan mengenai apa dan bagaimana sebenarnya matematika itu, akan terus mengalami perkembangan seiring dengan pengetahuan dan kebutuhan manusia serta laju perubahan zaman.
Matematika dalam sudut pandang Andi Hakim Nasution yang diuraikan dalam bukunya, bahwa istilah matematika berasal dari kata Yunani, mathein atau manthenein yang berarti mempelajari. Kata ini memiliki hubungan yang erat dengan kata Sanskerta, medha atau widya yang memiliki arti kepandaian, ketahuan, atau intelegensia. Dalam bahasa Belanda, matematika disebut dengan kata wiskunde yang berarti ilmu tentang belajar (hal ini sesuai dengan arti kata mathein pada matematika).
Sedangkan orang Arab, menyebut matematika dengan ilmu al-hisab yang berarti ilmu berhitung. Di Indonesia, matematika disebut dengan ilmu pasti dan ilmu hitung. Sebagian orang Indonesia memberikan plesetan menyebut matematika dengan “matimatian”, karena sulitnya mempelajari matematika. Pada umumnya orang awam hanya akrab dengan satu cabang matematika elementer yang disebut aritmetika atau ilmu hitung yang secara informal dapat didefinisikan sebagai ilmu tentang berbagai bilangan yang bisa langsung diperoleh dari bilangan-bilangan bulat 0, 1, -1, 2, – 2, …, dst, melalui beberapa operasi dasar: tambah, kurang, kali dan bagi.
Matematika secara umum ditegaskan sebagai penelitian pola dari struktur, perubahan, dan ruang, tak lebih resmi, seorang mungkin mengatakan adalah penelitian bilangan dan angka. Dalam pandangan formalis, matematika adalah pemeriksaan aksioma yang menegaskan struktur abstrak menggunakan logika simbolik dan notasi matematika, pandangan lain tergambar dalam filosofi matematika. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), matematika didefinisikan sebagai ilmu tentang bilangan, hubungan antara bilangan, dan prosedur operasional yang digunakan dalam penyelesaian masalah mengenai bilangan.
Berbicara tentang Matematika tak akan pernah terlepas dari kehidupan. Karena hampir dalam setiap aktivitas sehari-hari entah disadari atau tidak, kita pasti menggunakan Matematika. Mulai dari bangun tidur hingga menjelang tidur lagi. Oleh karena itu, Matematika menjadi salah satu pelajaran terpenting yang harus dikuasai oleh setiap orang yang ingin meraih sukses dalam kehidupannya. Dalam keahlian bermatematika kita dituntut untuk dapat menyelesaikan masalah dengan benar, sekaligus kita diberi kebebasan untuk menjawab dengan berbagai cara asalkan jawabannya benar dan dengan cara yang benar. Seperti kata pepatah, “Banyak jalan menuju Roma”. Namun, jika caranya salah atau salah dalam menuliskan satu angka saja hasil akhirnya juga salah. Disini kita diminta untuk jujur dalam menyelesaikan masalah yang ada dengan cara yang benar dan teliti.
Bahkan Ada pepatah mengatakan “Siapa yang menguasai matematika dan bahasa maka ia akan menguasai dunia”. Matematika sebagai media melatih untuk berpikir kritis, inovatif, kreatif, mandiri dan mampu menyelesaikan masalah sedangkan bahasa sebagai media menyampaikan ide-ide dan gagasan serta yang ada dalam pikiran manusia. Jelas sekali bahwa Matematika sangat berperan dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak dapat menghindar dari Matematika sekalipun kita mengambil jurusan ilmu sosial tetap saja ada pelajaran Matematika di dalamnya karena mau tidak mau matematika digunakan dalam aktivitas sehari-hari. Salah satunya penerapan Aljabar dalam kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran matematika secara formal umumnya diawali di bangku sekolah. Sementara itu, matematika di sekolah masih menjadi pelajaran yang menakutkan bagi para siswa. Di antara berbagai faktor yang memicu hal ini adalah proses pembelajaran yang kurang asyik dan menarik. Model pembelajaran yang sering di temui pada pembelajaran matematika adalah proses pembelajaran bercorak “teacher centered”, yaitu pembelajaran yang berpusat pada guru. Sehingga guru menjadi pemeran utama dan kehadirannya menjadi sangat menentukan. Pembelajaran menjadi tak dapat dilakukan tanpa kehadiran guru. Siswa cenderung pasif dan tidak berperan selama proses pembelajaran. Sehingga proses yang muncul adalah “take and give”. Dalam merangkai pembelajaran, guru pada umumnya terbiasa dengan model standar, yakni pembelajaran yang bermula dari rumus, menghapalnya, kemudian diterapkan dalam contoh soal.
            Model pembelajaran yang demikian tidak memberi ruang bagi siswa untuk melakukan observasi (mengamati), eksplorasi (menggali), inkuiri (menyelidiki), dan aktivitas-aktivitas lain yang memungkinkan mereka terlibat dan memahami permasalahan yang sesungguhnya. Model seperti ini yang mengakibatkan matematika bak kumpulan rumus yang menyeramkan, sulit dipelajari, dan nampak abstrak.
Kesulitan Belajar adalah suatu kesulitan pada anak yang terutama disebabkan karena gangguan neurologis sehingga mempengaruhi kemampuan untuk menerima, memproses, menganalisis atau menyimpan informasi. Pada anak dengan kesulitan belajar yang dimaksud, permasalahannya tidak hanya disebabkan karena masalah pendengaran, penglihatan, kemampuan morotik, hambatan emosi atau karena tekanan dari lingkungan tetapi juga oleh faktor neurologis.
Dr. Maria Goretti Adiyanti, M.S. dari bagian Psikologi Perkembangan Anak Fakultas Psikologi UGM mengatakan anak yang berkesulitan belajar belum tentu mempunyai kecerdasan yang kurang memadai, tetapi karena kondisi anak tersebut harus berjuang untuk dapat mencapai prestasi seperti anak di usia mereka terutama untuk memenuhi tuntutan sekolah.
“Oleh karena kesulitan yang dialami tersebut, anak yang berkesulitan belajar seringkali mengalami hasil belajar rendah dibanding dengan kemampuan intelektual yang dimilikinya,”ujar Adiyanti pada Seminar Memahami Potensi Anak Berkesukaran Belajar Dalam Tinjauan Neurologis dan Psikologis, Jumat (24/2) di Fakultas Psikologi UGM.
Seiring dengan berkembangnya peradaban dunia, kompleksnya masalah kehidupan menuntut sumber daya manusia yang handal dan mampu berkompetisi. Pada abad 21 Ini diramalkan akan lebih banyak lagi pekerjaan yang memerlukan keterampilan tingkat tinggi yang melibatkan pemikiran kritis, pemecahan masalah, penyampaian gagasan, dan kerjasama yang efektif.
Matematika merupakan raja sekaligus pelayan bagi ilmu-ilmu lainnya. Berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi sekarang ini tidak terlepas dari adanya campur tangan matematika. Sebagai contoh adalah penggunaan logika matematika sebagai dasar bahasa pemrograman, struktur data, kecerdasan buatan, sistem digital, basis data, teori komputasi, rekayasa perangkat lunak, jaringan saraf tiruan dan lainnya yang mempergunakan logika secara intensif. Selain itu, ada pula penggunaan lain dari matematika terhadap perkembangan TIK, yaitu penggunaan algoritma untuk menghemat ukuran file serta dalam pemrograman komputer, penggunan segitiga pascal dalam program turbo pascal, dan lain sebagainya. Masih banyak lagi sumbangan matematika dalam perkembangan TIK yang merupakan dasar ilmu computer.
Jadi, kemajuan peradaban manusia tidak lepas dari peranan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Tidak bisa dipungkiri bahwa perkembangan IPTEK yang demikian pesat telah mengantarkan kita menuju dunia baru, dunia matematika. Matematika sebagai raja dari bebagai ilmu memiliki peranan yang cukup besar dalam mewujudkan dunia baru itu. Demikian besar peranan matematika dalam kehidupan ini sehingga tak ada satupun aktivitas manusia yang tidak diwarnai oleh matematika. Karena itulah Kline (dalam Liennawaty) menyatakan bahwa “Jatuh bangunnya suatu negara dewasa ini tergantung pada kemajuan di bidang matematika”.






 

Sabtu, 24 Agustus 2019

Puisi: The Princess Rose Trilogy


The Princess Rose Trilogy


Tersebutlah seorang Putri Mawar
Beranjak dari belia ke usia dewasa
Semerbak mewangi aromanya, mengundang kumbang untuk mekar
Di pagi hari itu, di sapu angin bercampur embun, di kala mentari tiba

Hai Princess Rose
Ini ceritamu, tiga pemuda, dan pangeran berkuda
Yang secara sengaja di pertemukan oleh Sang Maha
Mereka mengitari kuntum, karena begitulah paras
Tiada seorang pun mampu menghindarinya
Terpikat dan tak bisa lepas

Katakanlah tiga lelaki itu adalah kumbang
Berikan mereka nama
Kumbang sahabat, kumbang kagum, dan kumbang cinta
Kau pernah berbagi, kau mengaguminya, dan pernah menjalin asmara

Melewati anugerah dari Pencipta Semesta
Dengan anggunmu yang tak pudar, dari wajahmu yang tak berdosa
Pantas kalbu jejaka itu jatuh kepadamu
Begitu mendamaikan, sampai mereka tak kuasa menunggu
Lalu, dongeng ini hanya terus berputar di tempat dalam kurun yang lama
Tanpa ada kepastian, entah itu dari mereka atau justru darimu

Hari demi hari pun berlalu
Satu per satu pun menghilang
Akhirnya, kalian menjadi sejarah
Tapi tidak dengan kumbang sahabat, ia masih berdiri tegap terarah
Menanti kasih yang fana

Namun ia baru sadar, fiksi itu ternyata benar
Pangeran berkuda itu datang, menjemput dan melamar
Tak butuh waktu, hanya perlu ikrar
Mereka pun mengucap janji bersama

Bersuka citalah wahai Putri Mawar
Akhir yang kau impikan, bukan?
Sebentar lagi, senja surya kan kembali ke peraduan
Si kumbang sahabat bergegas, beranjak pergi
Matanya berbinar, dalam satu hembusan
Ia tersenyum dalam tangisan

Kau tahu
Trilogi ini seperti permulaan surah Al Baqarah
Alif, Lam, Mim 
Maknanya, hanya Allah yang tahu

Created by Nanda Supriadi Siregar



Essai: Buku dan Kesuksesan, Dua Sisi yang Berkaitan

Essai ini saya tulis ditahun 2013, keluar sebagai juara 1 dalam lomba essai dengan tema “buku” yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Budaya...