Selasa, 05 April 2016

Puisi: Pengharapan

Puisi ini dapat penghargaan sebagai juara 3, saya menulis ini dalam rangka lomba sastra anak Medan tingkat mahasiswa se-Kota Medan, tahun 2013.


Pengharapan


Jatuh cinta padamu adalah ketidaksengajaan, yang jauh dari milyaran hal yang pernah kurencanakan
Dan kebetulan, yang paling aku syukuri adalah bertemu denganmu

Sempurnalah sepi mengurung sendiri
Terkulai dikunyah nelangsa berapi-api
Menyusuri jalanan lengang tak berhenti
Bersimbah angan tanpa tujuan pasti

Dalam derap gerimis yang pongah menghujami
Terbuai wajahmu menyusup bertubi-tubi
Membawa sebaris kata bahagia, tenggelamkan nurani

Di atas pengharapan tak berkesudahan
Tentang rindu kusam yang usang
Tentang cinta terbuang
Mengutip satu namamu di antara keluh kesah
Gundah gelisah, air mata, dan lara basah

Setitik sunyi hanyut mengalir lirih
Kala ombak gelora memipih
Kan kukikis asa dalam mimpi
Ini tentang hati
Yang kian hari kian meresapi
Tentang rasa yang tak kau peduli
                                                                                                             
Masihkah ada sedikit senyum darimu
Di batas penantianku yang kini makin terbata
Jika masih ada ruang di hatimu
Untukku, sedikit saja, tolong bicaralah
Pada tanah membentang
Pada pohon-pohon rindang
Dan angin yang mengusik keangkuhan

Setidaknya biar ada tanda yang bisa kubaca dan kuraba
Janganlah sepi yang hadir
Janganlah semu yang membeku
Karena aku selalu berjalan menujumu

Sampai pada akhirnya, aku tahu bukan aku yang kamu mau
Tapi kamu tetap ingin aku disampingmu, kan?


Created by Nanda Supriadi Siregar


Cerpen: Part 1 Pangeran Dari Negeri Korea Barat

Cinta Tapi Beda


Ketika cinta berasal dari dua keyakinan
Maka cinta menjadi terlarang

Mungkin ini akan terdengar klise. Tapi, hanya dengan menulis cerita ini bebanku akan sedikit berkurang. Setidaknya, semua orang tahu betapa besar cinta kami, kala itu.

Adakah yang abadi ketika perbedaan menjadi pemisah?
Kenapa pada akhirnya penderitaan yang menjadi saksi?
Lalu, siapakah yang bertanggungjawab dalam hal ini?

Semua pertanyaan penuh di kepalaku. Aku masih belum percaya akhirnya aku terjebak dalam kisah cinta ini. Tuhan, bisakah kau menjawabku? Kenapa ini terjadi? Harus sesakit ini cinta yang Kau berikan. Padahal selama ini yang kupahami cinta itu indah.
***
Mangapa ada banyak agama di dunia ini jika Tuhan itu hanya satu?

Matahari begitu menyebalkan hari ini. Panas sampai ke ubun-ubun. Suara berisik terdengar tidak jelas. Senior itu terus melanjutkan ocehannya tanpa memperhatikan kami yang sudah tidak tenang lagi. Aku tengah berada diantara ratusan mahasiswa hitam putih yang sedang berkumpul di lapangan. Akhirnya masa ini datang juga dalam hidupku, ospek.

Gerah. Tanganku terus menyeka keringat di dahi. Padahal, ini hari pertamaku menjadi mahasiswa baru. Tetapi kenapa begitu membosankan.

“Hai, aku Aan” sapa seorang laki – laki di sampingku. Sambil melambaikan tangannya.
“Syifa” jawabku tak menoleh.

Aku menutupi wajahku dengan sapu tangan putih. Menghalangi sinar matahari yang terasa membakar kulit. Pandanganku ke depan seketika berhenti. Rasanya ia terus memperhatikanku. Aku bisa melihat dari sudut bola mataku. Dengan pelan badanku bergerak menghadap ke arahnya.

Ia tersenyum. Oh tuhan, ternyata dia sangat tampan. Tatapan kami bertabrakan. Bukan hanya aku. Tapi dia juga. Pandangan pertama? Maksudnya jatuh cinta pada pandangan pertama? Oh tidak, tidak, jangan konyol, Syifa. Ucapku dalam hati. 

Aku ingin menyapanya, tapi rasanya sangat susah. Bukan itu, tapi egoku terlalu besar. Sedikit lagi. Mulutku akan mengucapkan satu kata.

“Seluruh maba dipersilahkan untuk bubar!” Teriak senior itu dengan lantang.

Burrrrrrrr!!!

Semua mahasiswa berdesakan bubar. Berlarian menuju teras kelas. Aku tidak mau bergerak jika tidak ingin jatuh lalu terinjak. Mataku terpejam menahan gesekan tubuh mereka. Dorongan terakhir itu sangat kuat. Aku bisa merasakan tubuh besarnya menghentakkan badanku ke tanah.
“Aduh...” rintihku.

Ketika aku melihat ke depan. Ia sudah menghilang. Kemana dia? Bukankah tadi masih disini? Sambil mengibas pakaianku dari debu, aku coba untuk berdiri lagi.

“Mau aku bantu?"

Suara itu. Sepertinya baru saja kudengar setelah tragedi yang membuatku jungkir balik. Yah, pasti laki – laki itu. Aku melihatnya tetap di depanku sambil dia mengulurkan tangannya.
"Terima Kasih"
“Boleh aku minta nomor handphonemu?” tanyanya.
"Hah, secepat itu ya?" 
"Aku ga maksud..."
"Secepat itu ospeknya bubar maksudku, hehe" aku langsung memotong penjelasannya.
"Oh itu, iya... hehe
"Aku masih baru di kota ini, klo kamu ga keberatan" lanjutnya.

Aku merasakan ada sesuatu yang berbeda sejak hari itu. Sesuatu hal yang menyenangkan. Maksudku, apakah kita saling menyukai?

                                           ***

Seharian lelah. Keliling pasar lokal. Tapi sangat menyenangkan. Semua keperluannya untuk menjadi anak kos sudah kami beli. Rice cooker, dispenser, setrika, lemari, pengharum ruangan, dan peralatan mandi, semua sudah lengkap.

Kami berdiri di depan pintu kosnya sambil menenteng plastik berisi dua bungkus nasi kotak. Mataku masih celingukan melihat ke dalam. 

“Kamu mau masuk? tanyanya.
"Emang boleh?"
"Oh bukan, iya tentu saja boleh, maksudku aku takut kamu..."
"Apa? Hayo, kamu geer sekali, hehe" candaku.

Sesaat. Langkahku terhenti. Saat melihat ornamen-ornamen yang bergelantungan. Tiga salib sekaligus tergantung di atas paku hitam. Poster Yesus dan Bunda Maria sejajar menempel di dinding kosnya. 

“Kamu ga salah lihat, fa. Itu tadi kenapa aku bertanya kamu mau masuk atau...."
“Oh, enggak kok. Kamu jangan berpikir seperti itu. Bukankah perbedaan itu indah, an?" Sekali lagi aku memotong ucapannya.
"Katanya sih begitu"

Apa yang sedang terjadi padaku? Kenapa aku ada disini? Aku tidak pernah berteman dengan mereka. Bahkan untuk hal ini pun tidak pernah pernah terlintas dipikiranku. Dari dulu aku disekolahkan di sekolah Islami. Maksudku, wajar saja jika aku ada rasa anti dengan mereka, walaupun itu hanya sedikit. Tapi, kenapa? Rasanya seperti ada magnet kuat yang menarikku untuk terus dekat dengannya, mengenalnya, lalu memahaminya. Aku tidak tahu rasa apa yang singgah di hatiku saat ini. Tapi, aku masih tidak percaya jika hatiku jatuh padanya. Syifa, kamu benar-benar sedang bermain dengan api.

Handphonenya berbunyi dengan nada dering lagu yg tidak familiar di telingaku.

“Sebentar ya. Aku angkat telphon dulu. Kamu jangan ketawa ya” katanya tersenyum lalu mengangkat handphone itu.
Aku cukup heran ketika ia melarangku tertawa. Memangnya kenapa?
“Baik – baik man’o’ fefu w’o’. Lumayan ohahau d’o’d’o’gu bada’a. Andr’o’o, b’o’i busi d’o’d’o’u ma“ ucap Aan di telpon. [1]

Apa? Hahaha. Bahasanya itu, cara dia berbicara lucu sekali. Membuatku tak bisa menahan tawa.

“Tuh kan. Kamu ketawa...” katanya.
“Aku enggak ketawa, beneran... Maaf An, aku ga kuat, haha"
“Sepertinya aku pernah dengar bahasa yang mirip dengan bahasamu” kataku sambil mengingat – ingat.
“Bahasa Korea. Iya, drakor, pernah nonton kan, An?"
“Benar, fa. Itu memang bahasa Korea. Korea Barat"
“Ah, kamu ngarang. Setahu aku nih ya. Korea itu cuma ada dua. Korea Selatan sama Korea Utara”
“Nah yang ini terobosan baru, Korea Barat dari pulau Nias. Lebih eksklusif-lah, hehe..."
“Oalah, aku ga nyangka loh, An ternyata semirip itu. Jadi, boleh dong ya sedikit – sedikit belajar bahasa Korea Barat dari kamu”
“Banyak – banyak juga boleh dong, fa, haha”

Suasananya kembali cair, setelah sempat canggung tadi. Haeh, aku hanya harus beradaptasi.

Kubuka kotak dari plastik itu. Kuberikan satu untuknya. Sambil berhadapan. Kami menyantap makan siang itu. Jam sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB. Pantasan saja sangat lapar.

Ia terus berbicara. Sambil mengunyah nasi. Mencontohkan logat Nias yang serba berhenti di huruf vokal dan berakhir tenggorokan. Sangat unik. Tidak henti – hentinya aku tertawa dibuatnya. Gampang – gampang susahlah. Aku sedikit mengerti bahasanya. Hanya saja aksenku masih belum mirip.  

***
Karena kita di persimpangan jalan
Kita tidak pernah menjadi pasti
Yang kita tahu, kita saling mencintai

“Aku kenalin sama mama ya, An” ajakku selesai pulang dari kampus.
“Tapi, fa...”
“Udah, ga papa. Mama baik kok orangnya” kataku meyakinkannya. Sambil menggandeng tangannya kami berjalan menembus gerbang fakultas.

Motor kami melaju kencang menebas angin jalanan. Menyalip diantara kendaraan yang ramai. Ia begitu lihai mengelakkan truk – truk besar itu. Sampai aku takut dan hanya bisa memejamkan mata. Peganganku semakin lama semakin erat. Dan hanya bisa merasakan kehangatan badannya yang terbungkus jaket hitam dan secepat itu kami sudah sampai di rumah.

Allahu akbar!
Allahu akbar...

“Udah adzan. Aku shalat dulu ya, An. Bentar lagi Mama sampe rumah” kataku. Keningnya mengerut. Aku tahu dia khawatir.
“Enggak usah khawatir. Aku sudah banyak cerita kok ke Mama soal kamu” sambil berjalan ke tempat wudhu.

Kreekkk....

Pintu rumah terbuka. Langsung terdengar jelas di telingaku. Entah karena aku menanti kedatangan Mama untuk mereka mengobrol. Tapi, sekarang aku mulai tidak tenang padahal aku sedang dalam keadaan shalat.
“Ini pasti, Nak Aan kan?” tebak Mama.
“Benar tante, ini saya Aan"
“Mana Syifa?” tanya Mama.
“Lagi shalat tante”
“Oh... Nak Aan sudah shalat?” tanya Mama.
"Anu tante..."

Tiba – tiba hening. Aku berhenti dari bacaan shalatku. Jantungku berdebar kencang disertai rasa takut. Astagfirullah! Aku kembali menenangkan perasaanku dan meneruskan shalatku. Aku tidak tahu apakah shalatku ini sah lagi. Tapi, aku ingin segera selesai dan menghampiri mereka. Tidak sempat aku membuka mukenah. Aku langsung berlari menuju ruang tamu. Mama duduk di kursi dengan tatapan datar ke depan. Seperti sedang marah. Sementara Aan sudah tidak ada.

“Aan kemana, mah?” tanyaku.
“Udah pulang"

Aku langsung lari ke depan rumah. Mengejarnya. Aku tidak mendapatinya lagi. Motornya tidak ada.
“Masuk!” bentak mama.
“Mama kan sudah pernah bilang, jangan pacaran sama yang beda agama, fa!"
“Kenapa, mah?"
“Mama ga nyangka ya. Ternyata laki – laki yang selama ini kamu puja – puja di depan mama adalah khatolik"
“Tapi Mama yang bilang kalau perbedaan itu indah"
"Syifa, kamu dari kecil dididik dengan agama, kamu tahu ini salah, jangan hanya karena alasan itu kamu jadi durhaka sama mama ya"
"Aan bukan hanya mah. Tapi ia berarti" kataku sambil menangis.
"Apapun boleh kamu warisin dari mama, tapi tidak dengan hubungan seperti ini lagi"
"Lagi? maksud mama?"
"Ayah kamu, mama sakit, fa" Mama menarik nafasnya dalam-dalam, seperti menahan sesak di dada, air matanya. Ia pergi kamar dan tidak melanjutkan ucapannya lagi.

Ayah, iya, aku masih ingat ketika SD dulu, aku sering bertanya, teman-teman lain, ayah dan mamanya datang ke sekolah. Kok ayah tidak pernah pulang sih mah? Mama selalu jawab, iya ayah kan lagi pergi cari uang buat syifa sekolah, tetapi lebih sering diam, dan bahkan kelihatan murung. Jadi sampai aku dewasa sekarang ini aku tidak pernah lagi menanyakan hal itu.


[1] Semuanya baik – baik aja kok, mah. Aku lumayan betah tinggal disini. Jadi, Mama tidak usah khawatir.

Cerpen: Part 2 Pangeran Dari Negeri Korea Barat (Final)

Prahara Hati


Akankah cinta mampu menembus dinding perbedaan itu?
Ataukah kesuciannya yang akan merobohkan batas – batas agama yang masing – masing berjuang mempertahankan kekuatannya?

Semua keluarga besar berkumpul di rumah. Menasehatiku.

“Paman, iya syifa salah, tapi kalau boleh tahu, aku ingin bertanya soal ayah"
Paman melirik mama, tapi mama menggelengkan kepalanya.
"Syifa berhak tahu yang sebenarnya, lagi pula ia sudah dewasa, kakek yakin syifa bisa mengerti" ucap kakek mencoba memberi pengertian ke mama.
“Apapun itu syifa tidak boleh sedih ya, ada hal-hal di dunia ini yang kita diberi pilihan dan yang dipilihkan. Termasuk orang tua, kita tidak bisa memilih" kata paman.
"Syifa udah siap buat dengarin yang sebenarnya, paman"
"Dulu..." paman terhenti, sulit sekali untuk mengutarakannya.
"Dulu, ayah kamu katholik, ketika menikah dengan mama kamu ia jadi muallaf. Beberapa bulan kemudian, ia meninggalkan mama kamu dan kembali ke agamanya"
"Dalam satu waktu ia mempermainkan tiga hal, tuhan, maruah keluarga kita, dan perasaan mama kamu, fa" sambut nenek terlihat kesal.

Deg!!!

Apa? Hembusan angin tombak menghujami telingaku saat mendengar kebenaran ini. Hah, seketika aku sok.

Aku diam. Ternga – nga. Menatap wajah mereka semua. Ampun tuhan, rasanya seperti hati yang disayat tipis-tipis. Mengapa sepasang cinta yang tulus tidak bisa bersatu karena keyakinan? Bukankah Engkau penuh kasih? Namun, mengapa kasih – Mu itu terasa hambar dan kosong?

***

Aku, kamu tidak akan pernah menjadi kita
Dapatkah kita yang telah dipersatukan oleh cinta, bersatu dengan Tuhan?

“Syifa...” kata Mama. Ia sudah berdiri di depan pintu kamarku. Aku mendongak. Melihatnya.
“Sekarang kamu sudah tahu semuanya. Itu sebabnya mengapa Mama dari awal selalu bilang jangan berhubungan dengan beda agama"
“Ga papa, ma" kataku tersenyum, aku menarik badan mama, memeluknya, membanjiri pundaknya dengan air mata.
"Mama adalah mama terbaik, makasih ya, ma sudah membesarkanku sendiri selama ini, semua kasih sayang mama selalu cukup buatku" isak dan sesak tangisku terasa semakin menyakitkan.

Mama sudah melalui kesedihan yang panjang, sampai aku dewasa sudah ia besarkan sendiri, ia tidak pernah mengeluh, ia tidak pernah menikah lagi. Bukankah itu suatu kesepian yang tidak berujung? Tidak. Kali ini hanya aku yang boleh memegang arang yang kubakar dengan sengaja.

Mama terdiam dari tangisnya. Ia menoleh ke belakang. Gerakannya seperti mendengar sesuatu. Aku juga mendengar itu. Suara ribut – ribut dari luar. Mama buru-buru keluar. Lalu mengunci pintu. Dari jendela itu aku melihat ke bawah. Di halaman.

“Aan” kataku kaget.

“Buat apalagi kamu datang kesini!” kata paman.
“Mohon tenang dulu, Om. Aku mau ketemu, Syifa. Sudah beberapa hari ini ia tidak masuk dan tidak membalas pesanku"
"Nak Aan, tante tidak melarang kamu ketemu syifa, tapi untuk saat ini syifa lagi istirahat ya" mama menarik paman dan menenangkannya.
"Aan tahu, masalahnya ada dimana, tante. Tapi tante tidak bisa memisahkan kami begitu saja"

Buggghh
Sebuah pukulan brutal mendarat di pipi Aan.
"Hey, sadar! Kamu tahu apa yang sedang kamu pertaruhkan sekarang? Keyakinanmu!" teriak paman.

Sakit. Aku tak bisa bersuara. Tak bisa membelanya. Orang yang kucintai. Tapi aku. Aku hanya bisa melihat tanpa bisa melakukan apapun untuknya. Beginikah rasanya memperjuangkan cinta terlarang? Apakah cinta begini akan selalu dipisahkan jika salah satu tidak memutuskan untuk pindah keyakinan? Kenapa semua orang begitu membenci cinta ini? Tuhan, ini tidak adil. Mengapa Kau anugerahkan perasaan ini jika Engkau sendiri tidak menyetujuinya?

Matanya berkedip. Ada darah menetes dari bibirnya. Ia melihat ke atas. Menatapku di balik jendela kaca. Matanya merah berlinang air mata. Aku tahu hatinya terluka. Seperti luka hatiku. Hancur berkeping – keping. Perlahan – lahan kepalanya menunduk lalu menitikkan airnya. Ia berbalik. Melangkah pergi.

"Aku pamit tante"

Dadaku sesak. Aku berbalik. Berlari lalu menghempaskan badanku di kasur. Menelungkup dan membenamkan wajahku ke atas bantal. Menumpuhkan seluruh sisa air mata. Sampai aku terlelap dan melupakannya dalam mimpi.

***
Gurrrrhhhhhhhh...!
Trasshhhh!
Trashhhh!
Guntur bergemuruh. Disertai kilat yang menyilaukan mata.  Menyambar kemana – mana. Bumi gelap. Angin kencang datang menampar keras jendela kaca kamarku. Cahaya menyingkir digantikan kabut hitam. Awan menjatuhkan butir – butir air mata kesedihan. Ia menangis seolah menyaksikan kisah ini. Jiwaku bergetar. Aku kaget. Terbangun dari tidur sore itu. Mataku menangkap cahaya tajam yang menebaskan di udara. Aku berdiri lalu berjalan pelan. Air mataku kembali menetes. Mengingatnya. Mengingat kisah kami yang takkan pernah bersatu. Aku baru sadar kalau hari sudah malam.

Bukan kita yang ingin terlahir berbeda
Bukan kita juga yang meminta untuk bertemu
Tuhan...
Jika memang Engkau yang mengatur jodoh tiap – tiap ummat
Mengapa harus Kau atur dia ada di skenario hidupku
Padahal Engkau tahu kami berbeda
Salah siapakah ini Tuhan?
Kreekkk....
Pintu kamarku terbuka. Aku langsung berbalik melihat siapa yang datang.
“Mama...” kataku.
Wajahnya telah dibanjiri air mata. Ia berlari. Menangkup badanku. Memeluk erat tubuhku. Sudah lama sekali aku tidak merasakan pelukan hangat ini. Ia terisak. Aku heran namun air mataku masih mengalir.

“Maafkan Mama, Syifa. Mama tahu kamu sangat terluka. Mama bisa merasakan itu"
“Pergilah. Temui dia” lanjut mama.
“Tapi, mah...”

Mama menghapus air mataku. Mencium keningku. Matanya berpendar. Penuh ketulusan. Sebelum aku pergi. Sebuah ucapan menjawab semua pertanyaanku selama ini.

“Di dalam dirimu mengalir darah ayahmu. Kami tahu maksud mama, kan"

Tatapanku sayu melihat Mama, sebutir air mata jatuh lagi. Aku berbalik dengan cepat keluar dari kamar. Angin itu bertiup lagi membobol tirai di jendela. Melenyapkan keheningan.
***
Kau tak mati
Hanya terjatuh untuk menyatu lagi dengan kesuburan
Merasuk ke dalam sari – sari yang akan mengembang
Bunga – bunga baru

Kau kehidupan
Bukan lagi ketakutan atau kesedihan
Tapi keharuman
Bahwa hidup memang sebuah persembahan

Dari altar- Nya
Aku ingin menjemputmu
Untuk kuselipkan lagi ditelinganya
Di wajah seorang cinta

Drapp...!
Drapp...!
Suara langkah kakiku saat berlari menerobos hujan. Angin masih bertiup kencang. Mengombang – ambingkan badanku. Petir terus menyambar – nyambar. Setidakmenentukan apapun cuaca sangat ini. Tak membuatku takut sedikit pun untuk menebas hujan yang semakin lebat.
Busshhhh!!!
Angin kuat itu menerbangkan payungku. Membawanya ke udara. Sampai aku tidak bisa melihat kemana larinya. Aku berhenti sejenak. Merasakan air hujan yang mulai mengalir ke sekujur tubuhku. Dingin.

Kusibak rambut yang menghalangi pandanganku. Lalu aku berlari lagi. Ia pasti sudah menungguku. Aku yakin, ia tidak akan kemana – mana tanpaku. Yah, itu dia. Cafe tempat kami bercerita dan menghabiskan waktu bersama. Langkahku semakin ringan untuk meraihnya. 
Kreekkk....
Pintu Cafe terbuka. Gelap. Sepi. Bukan hanya sepi. Tapi tidak ada satu pun orang di dalamnya. Tapi kenapa pintunya terbuka? Air yang masih melekat di tubuhku mengalir ke lantai. Kepalaku menunduk diiringi nafas yang memburu. Aku capek, tersengal – sengal lalu terduduk di sudut pintu. Menyandar lemas. Aku kembali menangis.
Trik, trikk, trikkk...!
Lampu Cafe menyala. Kerlap – kerlip. Dengan warna dominasi putih merah jambu. Sangat romantis. Semua orang terlihat jelas di dalamnya. Melihatku yang duduk terkapar di pintu. Di depan sana. Tepat lurusanku. Aan memegang microphone. Musik berbunyi. Ia mengangkat lalu mendekatkan microphone itu. Senandung lagunya, merdu namun liriknya menyakitkan.

Di dalam hati ini hanya satu nama
Yang ada ditulus hati kuingini
Kesetiaan yang indah takkan tertandingi
Hanyalah dirimu satu peri cintaku

Benteng begitu tinggi
Sulit untuk kugapai

Aku untuk kamu, kamu untuk aku
Namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda
Tuhan memang satu, kita yang tak sama
Haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi

Bukankah cinta anugerah berikan aku kesempatan
Untuk menjaganya sepenuh jiwa

Aku berdiri. Menghampirinya. Memeluknya erat. Dalam dekapannya tangisanku kembali lagi. Meringis. Membagi rasa sakit di dadaku kepadanya. Lalu ia memegang bahuku. Mengangkat daguku. Menatapku dalam – dalam. Tangisanku berhenti. Mengutarakan isi hatiku yang terpendam. Kuambil microphone itu dari tangannya, dihadapan semua pengunjung Cafe itu, tanganku bergetar karena dinginnya air hujan. Dengan cepat Aan membuka jaketnya, memakaikannya ke badanku. Sambil menghadap dengannya, semua orang dengan seksama dan haru memperhatikan kami. Lalu aku pun bersuara.

Tentu saja mereka yang mencintaiku di dunia ini
Mencoba menjagaku tetap aman
Tapi sebaliknya dengan cintamu yang lebih besar dari cinta mereka
Kau membuatku bebas...

Agar aku tidak melupakan mereka
Mereka tidak pernah berani meninggalkanku sendiri
Namun hari demi hari berlalu dan kau tidak terlihat

Jika aku tidak menyebutmu dalam do’a – do’aku
Jika aku tidak memilikimu di dalam hatiku
Cintamu untukku masih menunggu cintaku...

“Ayo kita pergi dari sini, An. Tidak akan ada yang mengerti dengan cinta kita”
Tangannya bergerak. Menelusuri pipiku. Menghapus seluruh air mataku.
"Enggak, fa. Sudah cukup. Agama akan menjadi penghalang kita, seakan kita selalu berperang. Ini saatnya, menyudahi semuanya”

Kita harus terpisah
Meski cinta tidak bisa pergi

Ia memegang kepalaku lalu mencium keningku. Pertama dan terakhir kalinya.
“Omasi’o’gu ndraug’o’” ucapnya.[1]
“Omasi’o’gu g’o’i ndraug’o’” jawabku.[2]


Created by Nanda Supriadi Siregar





[1] Aku mencintaimu
[2] Aku juga mencintaimu

Essai: Buku dan Kesuksesan, Dua Sisi yang Berkaitan

Essai ini saya tulis ditahun 2013, keluar sebagai juara 1 dalam lomba essai dengan tema “buku” yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Budaya...