Cinta
Tapi Beda
Ketika cinta berasal dari dua keyakinan
Maka cinta menjadi terlarang
Mungkin ini akan terdengar klise. Tapi, hanya dengan menulis cerita ini bebanku akan sedikit
berkurang. Setidaknya, semua orang tahu betapa besar cinta kami, kala itu.
Adakah yang abadi ketika perbedaan
menjadi pemisah?
Kenapa pada akhirnya penderitaan yang
menjadi saksi?
Lalu, siapakah yang bertanggungjawab
dalam hal ini?
Semua pertanyaan penuh di kepalaku. Aku masih belum percaya akhirnya aku terjebak dalam
kisah cinta ini. Tuhan, bisakah kau menjawabku? Kenapa ini terjadi? Harus sesakit ini cinta yang Kau berikan. Padahal selama ini yang kupahami cinta itu indah.
***
Mangapa ada banyak agama di dunia ini
jika Tuhan itu hanya satu?
Matahari
begitu menyebalkan hari ini. Panas sampai ke ubun-ubun.
Suara berisik terdengar tidak jelas. Senior itu terus melanjutkan ocehannya tanpa memperhatikan kami yang sudah tidak tenang lagi. Aku tengah berada diantara
ratusan mahasiswa hitam putih yang sedang berkumpul di lapangan.
Akhirnya masa ini datang juga dalam hidupku, ospek.
Gerah.
Tanganku terus menyeka keringat di dahi. Padahal, ini hari pertamaku menjadi mahasiswa baru. Tetapi kenapa begitu membosankan.
“Hai, aku Aan” sapa seorang laki – laki di sampingku. Sambil melambaikan tangannya.
“Syifa”
jawabku tak menoleh.
Aku menutupi wajahku dengan sapu tangan putih. Menghalangi sinar matahari yang terasa membakar kulit. Pandanganku ke depan seketika berhenti. Rasanya ia terus memperhatikanku. Aku bisa melihat dari sudut bola mataku. Dengan pelan badanku bergerak menghadap ke arahnya.
Ia tersenyum. Oh tuhan, ternyata dia sangat tampan. Tatapan
kami bertabrakan. Bukan hanya aku. Tapi dia juga. Pandangan pertama? Maksudnya jatuh cinta pada pandangan pertama? Oh tidak, tidak, jangan konyol, Syifa. Ucapku dalam hati.
Aku ingin menyapanya, tapi rasanya sangat susah. Bukan itu, tapi egoku terlalu besar. Sedikit lagi.
Mulutku akan mengucapkan satu kata.
“Seluruh maba dipersilahkan untuk bubar!” Teriak senior itu dengan lantang.
Burrrrrrrr!!!
Semua
mahasiswa berdesakan bubar. Berlarian menuju teras kelas. Aku
tidak mau bergerak jika tidak ingin jatuh lalu terinjak. Mataku terpejam
menahan gesekan tubuh mereka. Dorongan terakhir itu sangat kuat. Aku bisa
merasakan tubuh besarnya menghentakkan badanku ke tanah.
“Aduh...”
rintihku.
Ketika
aku melihat ke depan. Ia sudah menghilang. Kemana dia? Bukankah tadi masih disini? Sambil mengibas pakaianku dari debu, aku coba untuk berdiri lagi.
“Mau aku bantu?"
Suara
itu. Sepertinya baru saja kudengar setelah tragedi yang membuatku jungkir balik. Yah, pasti laki – laki itu. Aku melihatnya tetap di depanku sambil dia mengulurkan tangannya.
"Terima Kasih"
“Boleh
aku minta nomor handphonemu?”
tanyanya.
"Hah, secepat itu ya?"
"Aku ga maksud..."
"Secepat itu ospeknya bubar maksudku, hehe" aku langsung memotong penjelasannya.
"Oh itu, iya... hehe
"Aku masih baru di kota ini, klo kamu ga keberatan" lanjutnya.
Aku merasakan ada sesuatu yang berbeda sejak hari itu. Sesuatu hal yang menyenangkan. Maksudku, apakah kita saling menyukai?
***
Seharian lelah. Keliling pasar lokal. Tapi sangat menyenangkan. Semua keperluannya
untuk menjadi anak kos sudah kami beli. Rice
cooker, dispenser, setrika, lemari, pengharum ruangan, dan peralatan mandi,
semua sudah lengkap.
Kami berdiri di depan pintu kosnya sambil menenteng plastik berisi dua bungkus nasi kotak. Mataku masih celingukan melihat ke dalam.
“Kamu mau masuk? tanyanya.
"Emang boleh?"
"Oh bukan, iya tentu saja boleh, maksudku aku takut kamu..."
"Apa? Hayo, kamu geer sekali, hehe" candaku.
Sesaat. Langkahku terhenti. Saat melihat ornamen-ornamen yang bergelantungan. Tiga salib sekaligus
tergantung di atas paku hitam. Poster Yesus dan Bunda Maria sejajar menempel
di dinding kosnya.
“Kamu ga salah lihat, fa. Itu tadi kenapa aku bertanya kamu mau masuk atau...."
“Oh,
enggak kok. Kamu jangan berpikir seperti itu. Bukankah perbedaan itu indah, an?" Sekali lagi aku memotong ucapannya.
"Katanya sih begitu"
Apa
yang sedang terjadi padaku? Kenapa aku ada disini? Aku tidak pernah berteman
dengan mereka. Bahkan untuk hal ini pun tidak pernah pernah terlintas
dipikiranku. Dari dulu aku disekolahkan di sekolah Islami. Maksudku, wajar saja jika aku ada rasa anti dengan mereka, walaupun itu hanya sedikit. Tapi, kenapa? Rasanya seperti ada
magnet kuat yang menarikku untuk terus dekat dengannya, mengenalnya, lalu memahaminya. Aku tidak tahu rasa apa yang singgah di hatiku saat ini. Tapi, aku
masih tidak percaya jika hatiku jatuh padanya. Syifa, kamu benar-benar sedang bermain dengan api.
Handphonenya berbunyi dengan nada dering lagu yg tidak familiar di telingaku.
“Sebentar
ya. Aku angkat telphon dulu. Kamu jangan ketawa ya” katanya tersenyum lalu
mengangkat handphone itu.
Aku
cukup heran ketika ia melarangku tertawa. Memangnya kenapa?
“Baik
– baik man’o’ fefu w’o’. Lumayan ohahau d’o’d’o’gu bada’a. Andr’o’o, b’o’i busi
d’o’d’o’u ma“ ucap Aan di telpon.
Apa? Hahaha. Bahasanya itu, cara dia berbicara lucu sekali. Membuatku tak bisa menahan tawa.
“Tuh
kan. Kamu ketawa...” katanya.
“Aku enggak ketawa, beneran... Maaf An, aku ga kuat, haha"
“Sepertinya
aku pernah dengar bahasa yang mirip dengan bahasamu” kataku sambil mengingat
– ingat.
“Bahasa
Korea. Iya, drakor, pernah nonton kan, An?"
“Benar, fa. Itu memang bahasa Korea. Korea Barat"
“Ah,
kamu ngarang. Setahu aku nih ya. Korea itu cuma ada dua. Korea Selatan sama
Korea Utara”
“Nah yang ini terobosan baru, Korea Barat dari pulau Nias. Lebih eksklusif-lah, hehe..."
“Oalah, aku ga nyangka loh, An ternyata semirip itu. Jadi, boleh dong ya sedikit – sedikit belajar bahasa Korea
Barat dari kamu”
“Banyak
– banyak juga boleh dong, fa, haha”
Suasananya kembali cair, setelah sempat canggung tadi. Haeh, aku hanya harus beradaptasi.
Kubuka kotak dari plastik itu. Kuberikan satu untuknya. Sambil berhadapan. Kami
menyantap makan siang itu. Jam sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB.
Pantasan saja sangat lapar.
Ia terus berbicara. Sambil mengunyah nasi. Mencontohkan logat Nias yang serba
berhenti di huruf vokal dan berakhir tenggorokan. Sangat
unik. Tidak henti – hentinya aku tertawa dibuatnya. Gampang – gampang susahlah.
Aku sedikit mengerti bahasanya. Hanya saja aksenku masih belum mirip.
***
Karena kita di persimpangan jalan
Kita tidak pernah menjadi pasti
Yang kita tahu, kita saling
mencintai
“Aku kenalin sama mama ya, An” ajakku selesai pulang dari kampus.
“Tapi,
fa...”
“Udah, ga papa. Mama baik kok orangnya” kataku meyakinkannya. Sambil menggandeng tangannya kami berjalan menembus gerbang fakultas.
Motor kami melaju kencang menebas angin jalanan. Menyalip diantara kendaraan yang ramai. Ia begitu
lihai mengelakkan truk – truk besar itu. Sampai aku takut dan hanya bisa
memejamkan mata. Peganganku semakin lama semakin erat. Dan hanya bisa merasakan
kehangatan badannya yang terbungkus jaket hitam dan secepat itu kami sudah sampai di rumah.
Allahu akbar!
Allahu akbar...
“Udah adzan. Aku shalat dulu ya, An. Bentar lagi Mama sampe rumah” kataku. Keningnya
mengerut. Aku tahu dia khawatir.
“Enggak
usah khawatir. Aku sudah banyak cerita kok ke Mama soal kamu” sambil berjalan ke tempat wudhu.
Kreekkk....
Pintu
rumah terbuka. Langsung terdengar jelas di telingaku. Entah karena aku menanti
kedatangan Mama untuk mereka mengobrol. Tapi, sekarang aku mulai tidak tenang
padahal aku sedang dalam keadaan shalat.
“Ini
pasti, Nak Aan kan?” tebak Mama.
“Benar
tante, ini saya Aan"
“Mana
Syifa?” tanya Mama.
“Lagi
shalat tante”
“Oh...
Nak Aan sudah shalat?” tanya Mama.
"Anu tante..."
Tiba
– tiba hening. Aku berhenti dari bacaan shalatku. Jantungku berdebar kencang
disertai rasa takut. Astagfirullah! Aku kembali menenangkan perasaanku dan
meneruskan shalatku. Aku tidak tahu apakah shalatku ini sah lagi. Tapi, aku ingin
segera selesai dan menghampiri mereka. Tidak sempat aku membuka mukenah. Aku
langsung berlari menuju ruang tamu. Mama duduk di kursi dengan tatapan datar ke
depan. Seperti sedang marah. Sementara Aan sudah tidak ada.
“Aan
kemana, mah?” tanyaku.
“Udah pulang"
Aku langsung lari ke depan rumah. Mengejarnya.
Aku tidak mendapatinya lagi. Motornya tidak ada.
“Masuk!” bentak mama.
“Mama kan sudah pernah bilang, jangan pacaran sama yang beda agama, fa!"
“Kenapa, mah?"
“Mama
ga nyangka ya. Ternyata laki – laki yang selama ini kamu puja – puja di depan
mama adalah khatolik"
“Tapi Mama yang bilang kalau perbedaan itu indah"
"Syifa, kamu dari kecil dididik dengan agama, kamu tahu ini salah, jangan hanya karena alasan itu kamu jadi durhaka sama mama ya"
"Aan bukan hanya mah. Tapi ia berarti" kataku sambil menangis.
"Apapun boleh kamu warisin dari mama, tapi tidak dengan hubungan seperti ini lagi"
"Lagi? maksud mama?"
"Ayah kamu, mama sakit, fa" Mama menarik nafasnya dalam-dalam, seperti menahan sesak di dada, air matanya. Ia pergi kamar dan tidak melanjutkan ucapannya lagi.
Ayah, iya, aku masih ingat ketika SD dulu, aku sering bertanya, teman-teman lain, ayah dan mamanya datang ke sekolah. Kok ayah tidak pernah pulang sih mah? Mama selalu jawab, iya ayah kan lagi pergi cari uang buat syifa sekolah, tetapi lebih sering diam, dan bahkan kelihatan murung. Jadi sampai aku dewasa sekarang ini aku tidak pernah lagi menanyakan hal itu.