Dosa Terindah
Malam
ini sangat dingin. Angin berhembus kencang disertai rintik – rintik hujan.
Merembes melalui jendela. Tapi malam ini justru menjadi malam yang hangat
bagiku. Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Namun, lampu kamar masih
menyala. Situasi bilik yang berantakan. Seperti tidak pernah diurus sama
sekali. Atap penuh sarang laba – laba. Baju digantung berjejeran. Dinding
kusam. Lantai kasar dan risih. Inilah nasib rumah susun.
Di
ujung tempat tidur. Aku dan Bram duduk bersebelahan menghadap jendela. Sambil
menggenggam tangannya. Kusandarkan kepalaku di pundaknya. Aku tidak peduli
seberapa kuat cuaca membekukanku. Karena aku akan selalu merasa aman di
dekapnya. Momen yang kumimpikan setiap detik. Setiap malam sepi yang kulalui
tanpanya. Aku selalu bersabar.
Dua
belas tahun telah berlalu. Rahasia ini masih tersimpan rapi. Sedih. Di usia ke
tiga puluh lima tahun ini aku belum tahu rasanya menjadi seorang istri. Menjadi
seorang ibu. Dan memiliki keluarga yang seutuhnya.
Jika
aku boleh meminta satu hal saja di dunia ini. Aku ingin memilikinya.
Dimilikinya. Sempurna. Tapi, itupun jika tuhan masih ada. Mungkin memang betul.
Hanya perempuan yang bisa mencintai satu laki – laki.
Kapankah
kesendirian ini akan berakhir? Sarapan bersamanya setiap pagi. Memakaikan dasi
ketika ia akan berangkat kerja. Rasanya semua itu mustahil! Cukup ia hadir
ketika rindu melanda. Yah, cukup itu saja. Sederhana, kan?
Kumencintaimu lebih dari apapun
Meskipun tiada satu orang pun yang
tahu
Kumencintaimu sedalam – dalam
hatiku
Meskipun engkau hanya kekasih
gelapku
Suara
Mp3 dari handphonenya. Ia sengaja memutar lagu itu untukku. Sebagai perwakilan
perasaannya. Kita tahu kita saling mencintai. Tapi, rupanya adat Siti Nurbaya
masih berlaku. Kali ini untuk laki – laki. Ia dipaksa menikahi janda tua kaya
raya demi melunasi hutang orangtuanya.
“Tina...”
panggil Bram sambil membelai lembut rambutku.
“Hmm?”
jawabku pelan.
“Aku
tahu kamu mencintaiku dan sangat menyayangiku. Tapi kamu tidak bisa terus – menerus
seperti ini. Tidak bisa selalu menungguku sampai aku ada di sampingmu. Aku
sedih melihatmu hanya terduduk lemas menanti kedatanganku yang tidak pasti.
Kamu harus mencari orang lain untuk kamu cintai. Dan melupakanku”
Aku
menegakkan leherku. Menatapnya tajam. Seakan tak percaya Bram mengatakan itu
padaku.
“Apa?
Mencari penggantimu?!” Aku masih menatapnya.
“Aku
tak percaya kamu katakan itu. Apa kamu tidak merasakan bahwa hatiku sudah
terikat padamu?”
Bram
berbalik lalu menangkup kedua pipiku.
“Tidak.
Bukan seperti itu. Aku hanya tidak tega melihatmu duduk sendirian melamun
menantiku. Ini kulakukan karena aku sangat mencintaimu. Bahkan, cintaku lebih
besar dari yang bisa kamu bayangkan”
“Kamu
pasti sudah bosan denganku” kataku datar. Sedikit kecewa.
“Salah
Tin. Kamu salah”
Ia
mendekatkan wajahnya ke wajahku.
“Aku
hanya tidak ingin kamu bersedih. Karena aku tak kan mampu hadir saat kamu
membutuhkanku. Seperti kemarin, kamu mengurung diri di kamar dan duduk menangis
di pojok. Hatiku sakit, Tin, melihatmu seperti itu”
“Tapi
aku mencintaimu, Bram!” nadaku agak kasar dan tinggi. Lalu kembali rendah.
“Tak
bolehkah aku menunggumu? Menikmati indahnya kerinduan yang menggebu? Silahkan
kamu pergi. Tapi jangan pernah memaksaku untuk menggantikanmu dengan yang lain.
Tolong, aku mohon. Aku ingin tetap setia pada janjiku bahwa aku tak akan
meninggalmu apapun yang terjadi”
Tangan
Bram bergerak di pipiku. Menghapus air mata yang tanpa kusadari menetes. Aku
tahu saat melihat jemarinya mengkilap karena air.
“Aku
teralu lemah sampai aku tak tahu aku menangis” lanjutku.
“Bolehkah
aku terus menangis” tanyaku mulai terisak.
“Boleh,
sayang. Kamu boleh menangis sesukamu. Asalkan kamu menangis di hadapanku”
Ia
meraih leherku dan menarikku ke dalam pelukannya. Membiarkanku semakin
tenggelam dalam air mataku sendiri. Seandainya waktu bisa kuhentikan atau
bahkan kuundur ke masa lalu. Pasti kulakukan itu. Tak kubiarkan malam ini
beranjak menuju pagi. Aku ingin bahagia selamanya dalam dekapan Bram yang
hangat dan menentramkan. Seandainya. Ya, hanya seandainya. Aku tak mungkin bisa
menghentikan perputaran waktu. Walau harus nyawa kupersembahkan sekalipun.
“Tina,
bolehkah aku menciummu?” tanyanya ketika aku sudah berhenti dengan air mataku.
“Kenapa
harus meminta. Bukankah aku ini adalah milikmu?”
Ia
melepaskan pelukanku. Pelan – pelan mencium bibirku. Sangat lembut dan penuh
perasaan. Saat ia menarik kepalanya, aku memandang tepat ke bola matanya.
Mengiba. Memohon ia melakukannya lagi untukku. Aku tahu kita berdua ingin
melakukannya. Aku benar – benar tahu seperti apa Bram. Kami sudah dua belas
tahun menghabiskan waktu bersama. Dan sangat bisa merasakannya. Getaran juga
perubahan otot – otot tubuhnya. Bahkan aku bisa merasakan sentuhannya sebelum
aku tahu dia di belakangku dan mulai menyentuhku. Kehadirannya seperti sentuhan
fisik yang tidak dapat kutolak. Terasa sangat nyata.
Kami
bermain. Tenggelam dalam surga cinta. Aku sangat bahagia bersamanya saat
seperti ini. Tapi sungguh bukan karena itu aku menyukainya dan mencintainya.
Aku sangat mencintainya tanpa pernah bisa menjelaskan atas dasar apa aku
mencintainya.
Ketika
kubuka mataku, aku telah terbaring di tempat tidur. Warna merah jambu spray menambah nuansa romantis. Dan aku
sadar kami telah menyatu.
“Kamu
bahagia, sayang?” bisiknya di telingaku.
“Amat,
sangat bahagia” kataku tersenyum puas.
Ia
mengecup mesra keningku dan membelai pelan rambutku. Sebelum aku tertidur,
sayup – sayup kudengar suara Bram.
“Tuhan,
tolong jaga Tina untukku. Aku titipkan dia pada – Mu. Buatlah dia selalu
bahagia. Jauhkan dia dari semua kesedihan. Aku mohon pada – Mu, Tuhan. Aku
mencintainya”
Lalu
hening dan selanjutnya aku benar – benar terlelap dalam tidurku.
Hanya
aku, dia, dan tuhan yang tahu semua kisah ini. Aku tidak peduli seberapa banyak
dosa yang kulakukan. Aku terus menikmati setiap denting waktu yang bergulir. Karena
sesungguhnya, cinta tidak butuh persetujuan siapapun.
Created by Nanda Supriadi Siregar