Minggu, 17 Mei 2015

Cerpen: Dosa Terindah

Dosa Terindah

Malam ini sangat dingin. Angin berhembus kencang disertai rintik – rintik hujan. Merembes melalui jendela. Tapi malam ini justru menjadi malam yang hangat bagiku. Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Namun, lampu kamar masih menyala. Situasi bilik yang berantakan. Seperti tidak pernah diurus sama sekali. Atap penuh sarang laba – laba. Baju digantung berjejeran. Dinding kusam. Lantai kasar dan risih. Inilah nasib rumah susun.

Di ujung tempat tidur. Aku dan Bram duduk bersebelahan menghadap jendela. Sambil menggenggam tangannya. Kusandarkan kepalaku di pundaknya. Aku tidak peduli seberapa kuat cuaca membekukanku. Karena aku akan selalu merasa aman di dekapnya. Momen yang kumimpikan setiap detik. Setiap malam sepi yang kulalui tanpanya. Aku selalu bersabar.

Dua belas tahun telah berlalu. Rahasia ini masih tersimpan rapi. Sedih. Di usia ke tiga puluh lima tahun ini aku belum tahu rasanya menjadi seorang istri. Menjadi seorang ibu. Dan memiliki keluarga yang seutuhnya.

Jika aku boleh meminta satu hal saja di dunia ini. Aku ingin memilikinya. Dimilikinya. Sempurna. Tapi, itupun jika tuhan masih ada. Mungkin memang betul. Hanya perempuan yang bisa mencintai satu laki – laki.

Kapankah kesendirian ini akan berakhir? Sarapan bersamanya setiap pagi. Memakaikan dasi ketika ia akan berangkat kerja. Rasanya semua itu mustahil! Cukup ia hadir ketika rindu melanda. Yah, cukup itu saja. Sederhana, kan?

Kumencintaimu lebih dari apapun
Meskipun tiada satu orang pun yang tahu
Kumencintaimu sedalam – dalam hatiku
Meskipun engkau hanya kekasih gelapku

Suara Mp3 dari handphonenya. Ia sengaja memutar lagu itu untukku. Sebagai perwakilan perasaannya. Kita tahu kita saling mencintai. Tapi, rupanya adat Siti Nurbaya masih berlaku. Kali ini untuk laki – laki. Ia dipaksa menikahi janda tua kaya raya demi melunasi hutang orangtuanya.
“Tina...” panggil Bram sambil membelai lembut rambutku.
“Hmm?” jawabku pelan.
“Aku tahu kamu mencintaiku dan sangat menyayangiku. Tapi kamu tidak bisa terus – menerus seperti ini. Tidak bisa selalu menungguku sampai aku ada di sampingmu. Aku sedih melihatmu hanya terduduk lemas menanti kedatanganku yang tidak pasti. Kamu harus mencari orang lain untuk kamu cintai. Dan melupakanku”
Aku menegakkan leherku. Menatapnya tajam. Seakan tak percaya Bram mengatakan itu padaku.
“Apa? Mencari penggantimu?!” Aku masih menatapnya.
“Aku tak percaya kamu katakan itu. Apa kamu tidak merasakan bahwa hatiku sudah terikat padamu?”
Bram berbalik lalu menangkup kedua pipiku.
“Tidak. Bukan seperti itu. Aku hanya tidak tega melihatmu duduk sendirian melamun menantiku. Ini kulakukan karena aku sangat mencintaimu. Bahkan, cintaku lebih besar dari yang bisa kamu bayangkan”
“Kamu pasti sudah bosan denganku” kataku datar. Sedikit kecewa.
“Salah Tin. Kamu salah”
Ia mendekatkan wajahnya ke wajahku.
“Aku hanya tidak ingin kamu bersedih. Karena aku tak kan mampu hadir saat kamu membutuhkanku. Seperti kemarin, kamu mengurung diri di kamar dan duduk menangis di pojok. Hatiku sakit, Tin, melihatmu seperti itu”
“Tapi aku mencintaimu, Bram!” nadaku agak kasar dan tinggi. Lalu kembali rendah.
“Tak bolehkah aku menunggumu? Menikmati indahnya kerinduan yang menggebu? Silahkan kamu pergi. Tapi jangan pernah memaksaku untuk menggantikanmu dengan yang lain. Tolong, aku mohon. Aku ingin tetap setia pada janjiku bahwa aku tak akan meninggalmu apapun yang terjadi”
Tangan Bram bergerak di pipiku. Menghapus air mata yang tanpa kusadari menetes. Aku tahu saat melihat jemarinya mengkilap karena air.
“Aku teralu lemah sampai aku tak tahu aku menangis” lanjutku.
“Bolehkah aku terus menangis” tanyaku mulai terisak.
“Boleh, sayang. Kamu boleh menangis sesukamu. Asalkan kamu menangis di hadapanku”
Ia meraih leherku dan menarikku ke dalam pelukannya. Membiarkanku semakin tenggelam dalam air mataku sendiri. Seandainya waktu bisa kuhentikan atau bahkan kuundur ke masa lalu. Pasti kulakukan itu. Tak kubiarkan malam ini beranjak menuju pagi. Aku ingin bahagia selamanya dalam dekapan Bram yang hangat dan menentramkan. Seandainya. Ya, hanya seandainya. Aku tak mungkin bisa menghentikan perputaran waktu. Walau harus nyawa kupersembahkan sekalipun.
“Tina, bolehkah aku menciummu?” tanyanya ketika aku sudah berhenti dengan air mataku.
“Kenapa harus meminta. Bukankah aku ini adalah milikmu?”

Ia melepaskan pelukanku. Pelan – pelan mencium bibirku. Sangat lembut dan penuh perasaan. Saat ia menarik kepalanya, aku memandang tepat ke bola matanya. Mengiba. Memohon ia melakukannya lagi untukku. Aku tahu kita berdua ingin melakukannya. Aku benar – benar tahu seperti apa Bram. Kami sudah dua belas tahun menghabiskan waktu bersama. Dan sangat bisa merasakannya. Getaran juga perubahan otot – otot tubuhnya. Bahkan aku bisa merasakan sentuhannya sebelum aku tahu dia di belakangku dan mulai menyentuhku. Kehadirannya seperti sentuhan fisik yang tidak dapat kutolak. Terasa sangat nyata.

Kami bermain. Tenggelam dalam surga cinta. Aku sangat bahagia bersamanya saat seperti ini. Tapi sungguh bukan karena itu aku menyukainya dan mencintainya. Aku sangat mencintainya tanpa pernah bisa menjelaskan atas dasar apa aku mencintainya.

Ketika kubuka mataku, aku telah terbaring di tempat tidur. Warna merah jambu spray menambah nuansa romantis. Dan aku sadar kami telah menyatu.
“Kamu bahagia, sayang?” bisiknya di telingaku.
“Amat, sangat bahagia” kataku tersenyum puas.
Ia mengecup mesra keningku dan membelai pelan rambutku. Sebelum aku tertidur, sayup – sayup kudengar suara Bram.
“Tuhan, tolong jaga Tina untukku. Aku titipkan dia pada – Mu. Buatlah dia selalu bahagia. Jauhkan dia dari semua kesedihan. Aku mohon pada – Mu, Tuhan. Aku mencintainya”
Lalu hening dan selanjutnya aku benar – benar terlelap dalam tidurku.

Hanya aku, dia, dan tuhan yang tahu semua kisah ini. Aku tidak peduli seberapa banyak dosa yang kulakukan. Aku terus menikmati setiap denting waktu yang bergulir. Karena sesungguhnya, cinta tidak butuh persetujuan siapapun.

Created by Nanda Supriadi Siregar

Cerpen: Serambi Mekkah Bercerita

Serambi Mekkah Bercerita

Aku ingin sendiri
Menghentikan semua aktifitas
Menjauh dari segala kebisingan
Pergi lalu bersembunyi
Seperti menghilang sesaat
Dari kehidupan
Menyatu dengan kesunyian
Hanya bertiga
Aku, diriku, dan saya

Tak terasa 8 tahun telah berlalu. Kamu yang dulu disampingku kini sudah tiada. Sore ini, aku bagai insan tanpa rasa. Berangan – angan jauh mencapai sejuta kedamaian. Bertemankan dua kaki dalam pelukan. Butir – butir hujan bertebaran di pandanganku. Angin kencang berkecamuk di sekelilingku dan halilintar yang tiada henti. Namun semangatku tidak surut untuk selalu menyendiri. Menikmati kisah kita di masa lalu. Karena hanya dengan begini aku bisa merasakan kalau kamu masih ada.

Aku tak peduli seberapa konyol kehidupanku sekarang. Karena kuyakin, ini hanyalah ilusi yang tiada arti. Kamu tak pernah tahu bagaimana aku menjalani hari – hari tanpamu. Bersahabat dengan sepi, sunyi, dan kegelapan malam. Kamu juga tak pernah tahu. Betapi gulitanya bumi ini tanpamu. Semua ini lebih dari menakutkan.

Kamu tahu. Air sungai itu. Tempat kita dulunya beradu kasih. Kini telah mengering. Hanya mengalir ketika hujan lebat turun. Itulah mengapa aku ada disini.

Orang – orang disini sudah menganggapku gila. Masa bodoh! Mereka pikir mereka siapa. Aku butuh pencahayaan, Ram. Cahayamu. Cahaya yang pernah menyinari hatiku yang tandus. Mungkin dengan begitu aku akan sedikit lebih waras. Dan mereka tidak akan menertawaiku lagi. .

Dalam lamunan ini. Kamu masih jelas terlihat di memori ingatanku. Berlabuh di benak yang penuh belukar. Terjebak dan tak bisa lepas. Itulah kamu yang masih terpenjara dalam jiwaku. Bagaikan nafas yang berhembus. Bagikan darah yang mengalir. Menjadi bagian dari diriku. Bukan kamu. Tapi akulah sebenarnya yang terpenjara. Dalam tangisanku. Pedih.

Sesak kian dadaku mengenangmu yang kini telah damai di alam sana. Dahulu, kamu yang berjanji untuk selalu setia di sampingku, hidup, dan menjadi bagian dari masa depanku. Semuanya berubah 180 derajat. Lapar, haus, dan serba kekukarangan. Inilah episodeku. Maafkan aku. Aku tak cukup kuat untuk menjadikan bunga – bunga di taman kita kembali mekar.
***
Waktu itu aku sangat ketakutan. Bukan karena getaran kuat yang menggoncang bumi. Atau tsunami yang melanda. Tapi, aku takut terpisah darimu dan anak kita. Kesana kemari kamu larikanku bersama anugerah di kandunganku. Begitu gagah kamu di pelupuk mataku wahai pangeranku.

Kamu berusaha menaikkanku ke atap rumah yang tinggi. Yang tidak terjangkau air yang sedang pasang. Tanpa sadar kalau tempat itu hanya muat untuk satu orang saja.  Tiba – tiba saja air datang. Menggulung. Menelan seisi Aceh. Tanganmu yang masih erat dalam genggamanku terus kutarik sekuat tenaga. Setelah akhirnya tak berdaya lagi. Lepas walau tak rela.
“Dianah, jaga anak kita” katanya lirih, badannya telah ditelan air keruh.
“Jangan tinggalkan kami, Ram. Aku tak bisa tanpamu. Ram!!!”
“Kamu pasti bisa. Aku akan kembali untukmu dan anak kita”

Kata terakhir yang terdengar sebelum gelombang berperan. Dan kutak bisa lagi berkata apapun. Merintih kesakitan kerena titipan ilahi yang sudah tidak tenang lagi. Tendangannya seolah ingin melihat kepergian ayahnya. Apakah ini pertanda buruk?

Kumenangis sejadi – jadinya. Berteriak minta tolong. Namun, tak satupun mendengar. Hanya beriak air keras yang terdengar seakan mencaciku. Semua terlihat rata. Digenangi air keruh dan benda – benda yang terapung. Tak ada orang maupun burung yang berkicau. Semua lari terbirit – birit.

Hanya tersisa diriku seorang. Semua di usir tanpa perasaan. Secara paksa. Begitu tegakah engkau air bah? Sia – sia saja. Kamu takkan mendengarkanku. Karena kamu hanyalah benda jahat yang tak punya telinga.

Sehari semalam aku berada disana. Menunggu air surut. Bermunajat. Memohon keselamatanku, anakku, dan kamu. Berharap sang malaikat menerbangkanku walau tanpa arah yang pasti.
***
Paginya, air sudah surut. Para warga membantuku untuk turun dari genteng rumah. Muka pucat pasih, lemas, dan lesuh. Badanku mengigil. Warga harus kerepotan lagi mengurusku di tengah musibah itu.

Beberapa hari kemudian aku sudah sehat. Walau belum stabil berjalan namun semua tak mempengaruhiku untuk mencari dirimu. Tak ada sesuatupun yang terlintas di pikiranku kecuali kamu yang tercinta.

Di tengah keramaian warga serta wartawan – wartawan yang meliput berita. Aku berusaha masuk untuk melihat semua korban yang ada. Walau sebenarnya perut sudah tidak memungkinkan lagi menerobos tempat sesempit itu. Tetap kupaksakan.

Satu persatu mayat kubuka. Bau menyengat. Menusuk penciuman. Membuatku mual. Lalu muntah.
“Krakkk...!” suara plastik hitam penutup mayat itu.
Wajahnya sedikit hancur, hitam legam, kaku, dan... Aku mengenalnya. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Ia adalah laki – laki yang sudah hidup bersamaku. Mengikat janji sehidup semati.
“Inikah suamiku?” ucapku.
Aku tak percaya. Tidak mungkin. Aku pasti sedang bermimpi. Tapi, kenapa? Rasa sakit ini semakin menyesakkan. Dan wajahku telah dibanjiri air mata. Pilu.

Ini omong kosong. Kamu pasti hanya pura – pura mati. Lelucon apalagi yang ingin kamu tunjukkan untuk membuatku tertawa. Tidak usah. Ini bukan waktu yang tepat.
“Bangun! Bangun, Ram” kataku sambil menggoyang – goyang badannya. Aku tidak diacuhkan. Sama sekali tidak digubris.
“Kamu bohong, Ram. Kamu tak kembali untukku dan anak kita”
***
Hari ini tepat 8 tahun kamu menjadi penghuni alam lain. Berbahagialah disana. Sampai suatu hari nanti tuhan mempertemukan kita kembali. Di surga – Nya.
“Kamu bisa tanpa aku, sayang...”
Bisikan itu membangunkanku dari lamunan panjang ini. Hujan sudah reda. Awan gelap menyinggir. Tergantikan cahaya mentari dari timur. Terang. Tapi hatiku? Sekarang, aku baru percaya kalau aku telah lama kehilangan dirimu.

Created by Nanda Supriadi Siregar


Essai: Buku dan Kesuksesan, Dua Sisi yang Berkaitan

Essai ini saya tulis ditahun 2013, keluar sebagai juara 1 dalam lomba essai dengan tema “buku” yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Budaya...